PERSATUAN SARJANA KEHUTANAN INDONESIA (Indonesian Forestry Scholar Association) merupakan organisasi tempat berhimpunnya para sarjana Kehutanan di Indonesia


Sejarah Persaki

PERSAKI telah terbentuk 46 tahun yang lalu, memiliki anggota paling sedikit 15.000 orang lulusan sarjana Kehutanan seluruh Indonesia. Sebaran anggota berada di Departemen Kehutanan, Dinas Kehutanan, Universitas, Perusahaan Swasta, BUMN Kehutanan, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Partai politik, dan instansi pemerintah non kehutanan.

Berikut kutipan tentang pendirian PERSAKI :

“….bahwa hutan dibumi Idonesia merupakan sebagian dari kekayaan alam yang harus diikut sertakan untuk mencapai tujuan itu, dan sejiwa dengan Manifesto Politik Republik Indonesia yang menjadikan masyarakat Indonesia yang adil dan makmur sebagai tujuan Revolusi, maka dengan ini : Kami Sarjana Kehutanan Indonesia menyatukan diri dalam Persatuan Sarjana Kehutanan Indonesia (PERSAKI)…….” (Piagam Pendirian, Brosur No. 1; 1964).

Dalam dokumen “Piagam Pendirian” Persaki, disebutkan rimbawan Indonesia yang menyatakan diri sebagai pendiri adalah: Hartono, Moch. Haris, Muh. Kuswanda, Soewarsono P.H., Moch. Rochmadi, Sjafii Manan, Kaminuddin Ritonga, Nj. Rukmowati Hartono.

Menurut Hartono, salah satu deklarator PERSAKI menyatakan tahun 1963 merupakan zaman revolusi, dimana jika mendirikan organisasi profesional dengan mudah dituduh sebagi anti revolusi. Pun demikian, para rimbawan muda Indonesia tetap nekad untuk mendirikan sebuah organisasi profesional tanpa berafiliasi kepada orsospol manapun. Meskipun tanpa dukungan para rimbawan senior kala itu, Persaki tetap dideklarasikan tanpa melalui sebuah rapat-rapat, melainkan langsung dideklarasikan dan kemudian mencari anggota baru.

Latar belakang lain yang mewarnai berdirinya Persaki adalah, keinginan untuk membangun sebuah organisasi profesi kehutanan yang lebih fokus terhadap isu kehutanan. Karena pada tahun 1963 telah ada organisasi “Ikatan Sarjana Pertanian dan Kehutanan”, akan tetapi dalam organisasi tersebut persoalan kehutanan di nomor dua kan, sehingga para sarjana kehutanan bertekad untuk membentuk oraganisasi profesi kehutanan yang lebih fokus terhadap persoalan hutan dan kehutanan di Indonesia. Selain itu, menurut Hartono, gagasan Persaki diilhami para sarjana kehutanan Indonesia ketika belajar di Amerika, dimana organisasi profesi kehutanan sangat maju dan turut aktif dalam rencana-rencana pengelolaan hutan di Amerika. Menurut Sadikin , Pembentukan Persaki dapat dimaknai pula sebagai upaya untuk menambah tenaga barisan profesional para asosiasi para sarjana karena pada waktu itu sudah berjalan PPAK (Persatuan Peminat dan Ahli Kehutanan).

Pada saat berdirinya Persaki pada tahun 1963 pengelolaan hutan di Indonesia terfokus di Jawa, yang berorientasi penananaman yang berberan sebagai satu-satunya sumber penghasil kayu. Untuk itu Persaki berusaha agar pengelolaan hutan jangan terkonsentrasi di pulau jawa saja.  Maka dikirimlah kader-kader Persaki ke penjuru Indonesia untuk memulai pekerjaan mulia sebagai amanat bangsa dan negara seperti: Bapak Harsono dikirim ke Kalbar, Afandi dan Uum Sumawijaya dikirim ke Kalteng, dan Bers Philip Hasibuan dikirim ke Riau. Mulailah kader-kader terbaik Persaki memulai karya besarnya untuk mengelola hutan dan kehutanan Indonesia, sebagai cita-cita organisasi untuk tidak terfokus di Jawa saja.

Secara historis minimal Persaki telah mengalami  Tiga kali pergantian Rezim politik di negara ini. Pertama, pada masa Orde lama dalam kepemimpinan Demokrasi terpimpin presiden Soekarno. Kiprah persaki memang sangat nyata, dimana terlibat aktif untuk memberikan saran, pemikiran untuk pengelolaan hutan di Indonesia. Kedua, Rezim orde Baru, kader-kader Persaki juga turut aktif pula untuk melakukan pengawalan terhadap Repelita (Rencana Pembangunan Lima Tahun) di sektor kehutanan. Bahkan menurut Simon, pada awal orde baru Presiden Soeharto meminta kepada Persaki untuk membuat Blue Print tentang pengelolaan hutan di luar Jawa (disampaikan pada saat talk Show Persaki, 30 Novemver 2006). Ketiga, pada saat orde reformasi, keder-kader Persaki banyak yang terlibat aktif dalam arus perubahan tersebut. Baik yang ada di Pemerintahan, NGO, akademisi, maupun ormas dan orsosopol.


Back to Top ↑
  • Video

  • Media Persaki

    Edisi Juli 2009


    Edisi Mei 2009


    Dapatkan majalah PERSAKI edisi terbaru di Sekretariat PERSAKI, Jakarta atau DPC-DPC.