<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments for Persaki.Org</title>
	<atom:link href="http://persaki.org/comments/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://persaki.org</link>
	<description>Persatuan Sarjana Kehutanan Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Thu, 29 Nov 2012 10:57:43 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.4.2</generator>
	<item>
		<title>Comment on SILIN: Kebangkitan Kehutanan Indonesia ke Depan by ichsan rahmanto</title>
		<link>http://persaki.org/2009/04/silin-kebangkitan-kehutanan-indonesia-ke-depan/#comment-730</link>
		<dc:creator>ichsan rahmanto</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 29 Nov 2012 10:57:43 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://persaki.org/?p=41#comment-730</guid>
		<description>saya setuju dengan komentar sebelumnya. saya adalah mahasiswa antropologi yang juga melakukan riset sosial - ekonomi masyarakat desa binaan di wilayah konsesi perusahaan pemegang IUPHHK. adanya sistem silvikultur intensif ( entah tpti atau tptj ? ) menurut saya sangat baik berkaitan dengan kondisi ekonomi dan sosio kultural masyarakat desa binaan. Maslaah tenurial yang sering dihadapi memiliki kecenderungan mengecil jika diterapkan silin. kenapa? hal ini karena adanya kejelasan area produksi , perladnagan berpindah yang dilakukan masyarakat sering dianggap negatif karena overlay dengan wilayah konsesi. adanya silin tentunya akan menyerap tenaga kerja yang besar , dan dalam hal ini masyarakat lokal memiliki kesempatan untuk bekerja bersama perusahaan. selain itu, dengan adanya divisi seperti PMD dan BINHUT dapat mengatasi atau menampung permaslahan yang dihadapi masyarkaat. semangat terus para rimbawan dalam membangun melestarikan hutan dan juga masyarakat lokal ! :D</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>saya setuju dengan komentar sebelumnya. saya adalah mahasiswa antropologi yang juga melakukan riset sosial &#8211; ekonomi masyarakat desa binaan di wilayah konsesi perusahaan pemegang IUPHHK. adanya sistem silvikultur intensif ( entah tpti atau tptj ? ) menurut saya sangat baik berkaitan dengan kondisi ekonomi dan sosio kultural masyarakat desa binaan. Maslaah tenurial yang sering dihadapi memiliki kecenderungan mengecil jika diterapkan silin. kenapa? hal ini karena adanya kejelasan area produksi , perladnagan berpindah yang dilakukan masyarakat sering dianggap negatif karena overlay dengan wilayah konsesi. adanya silin tentunya akan menyerap tenaga kerja yang besar , dan dalam hal ini masyarakat lokal memiliki kesempatan untuk bekerja bersama perusahaan. selain itu, dengan adanya divisi seperti PMD dan BINHUT dapat mengatasi atau menampung permaslahan yang dihadapi masyarkaat. semangat terus para rimbawan dalam membangun melestarikan hutan dan juga masyarakat lokal ! <img src='http://persaki.org/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on SILIN: Kebangkitan Kehutanan Indonesia ke Depan by Hana Maria</title>
		<link>http://persaki.org/2009/04/silin-kebangkitan-kehutanan-indonesia-ke-depan/#comment-418</link>
		<dc:creator>Hana Maria</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 11 May 2012 08:44:45 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://persaki.org/?p=41#comment-418</guid>
		<description>MARI KITA BERGANDENGAN TANGAN, WAHAI RIMBAWAN

Sebagai rimbawan, saya malu dengan teman-teman lain profesi.  Kata mereka, kerja di HPH atau HTI (IUPHHK) tidak mempunyai masa depan.  Disamping gajinya kecil medan kerjanya juga &quot;ganas dan kotor&quot;.  Para rimbawan swasta banyak yang mendapat predikat &#039;kutu locat&quot; karena sering berpindah tempat kerja, sekedar mencari yang sedikit lebih baik..meskipun ternyata tidak lebih baik....

Saya banyak membaca tulisan Prof. Soekotjo, Prof. Na&#039;iem, Ir. Nana Suparna, Dr. Wahyudi dan lain-lain.  Saya tertarik dengan konsep SILIN.  Namun setahu saya, yang disebut Silvikultur Intensif adalah sistem pengelolaan hutan yang dilakukan dengan sungguh-sunguh.  Sistem SILIN banyak dilakukan di hutan tanaman.  Apabila kita hendak menggunakan sistem TPTI atau TPTJ atau lainnya dengan sunguh-sunguh maka otomatis telah memakai SILIN.  Jadi sistem SILIN bukan hanya milik TPTJ.

Saya berharap para pakar kehutanan dapat bersatu. Menanggalkan ego almamater nya demi kebangkitan kehutanan ini.  

Apabila kita membangun HTI Akasia atau Eucalyptus yang berdaur 5-7 tahun, itu urusan gampang.  Sebagai rimbawan, kita harus mampu melestarikan hutan alam produksi yang mempunyai struktur dan komposisi beragam, sebagai gudang biodiversity dunia.  Sistem TPTJ dengan teknik SILIN adalah langkah yang tepat.  Mari kita lepaskan baju UGM, baju IPB, baju Unmul dan baju2 almamater lainnya, lalu kita duduk bersama, berpikir, menganalisis, mengevaluasi dan berkarya nyata demi masa depan kehutanan kita.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>MARI KITA BERGANDENGAN TANGAN, WAHAI RIMBAWAN</p>
<p>Sebagai rimbawan, saya malu dengan teman-teman lain profesi.  Kata mereka, kerja di HPH atau HTI (IUPHHK) tidak mempunyai masa depan.  Disamping gajinya kecil medan kerjanya juga &#8220;ganas dan kotor&#8221;.  Para rimbawan swasta banyak yang mendapat predikat &#8216;kutu locat&#8221; karena sering berpindah tempat kerja, sekedar mencari yang sedikit lebih baik..meskipun ternyata tidak lebih baik&#8230;.</p>
<p>Saya banyak membaca tulisan Prof. Soekotjo, Prof. Na&#8217;iem, Ir. Nana Suparna, Dr. Wahyudi dan lain-lain.  Saya tertarik dengan konsep SILIN.  Namun setahu saya, yang disebut Silvikultur Intensif adalah sistem pengelolaan hutan yang dilakukan dengan sungguh-sunguh.  Sistem SILIN banyak dilakukan di hutan tanaman.  Apabila kita hendak menggunakan sistem TPTI atau TPTJ atau lainnya dengan sunguh-sunguh maka otomatis telah memakai SILIN.  Jadi sistem SILIN bukan hanya milik TPTJ.</p>
<p>Saya berharap para pakar kehutanan dapat bersatu. Menanggalkan ego almamater nya demi kebangkitan kehutanan ini.  </p>
<p>Apabila kita membangun HTI Akasia atau Eucalyptus yang berdaur 5-7 tahun, itu urusan gampang.  Sebagai rimbawan, kita harus mampu melestarikan hutan alam produksi yang mempunyai struktur dan komposisi beragam, sebagai gudang biodiversity dunia.  Sistem TPTJ dengan teknik SILIN adalah langkah yang tepat.  Mari kita lepaskan baju UGM, baju IPB, baju Unmul dan baju2 almamater lainnya, lalu kita duduk bersama, berpikir, menganalisis, mengevaluasi dan berkarya nyata demi masa depan kehutanan kita.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on SILIN: Kebangkitan Kehutanan Indonesia ke Depan by Isa Mahendra</title>
		<link>http://persaki.org/2009/04/silin-kebangkitan-kehutanan-indonesia-ke-depan/#comment-417</link>
		<dc:creator>Isa Mahendra</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 11 May 2012 08:22:42 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://persaki.org/?p=41#comment-417</guid>
		<description>Kebangkitan Hutan Campuran (Renaissance of Mixed Forest)
Sistem tebang pilih yang diterapkan pada hutan alam produksi (baca: hutan campuran), baik dalam bentuk TPI (1972-1989) maupun TPTI (1989-sekarang) merupakan buah pemikiran begawan kehutanan pertama Indonesia yang baik.  Sistem tersebut berhasil meredam derasnya laju kerusakan hutan Indonesia.  Luas kawasan berhutan pertama kali (sebelum tahun 70-an) adalah 164 juta ha (Suratmo, 2004), lalu menurun menjadi 144 juta ha (TGHK, 1981), lalu menurun lagi tahun 2000 menjadi 120 juta ha (Balitbanghut, 2008).  Tahun 2010 direvisi menjadi 134 juta ha (Ditjen BUK, 2010).
Berdasarkan hasil penelitian Dr. Wahyudi tahun 1998 sampai 2011, sistem TPTI dengan siklus tebang 35 tahun dan limit diameter pohon tebang 50-60 cm telah berhasil mempertahankan kelestarian hutan alam produksi pada kisaran produksi kayu komersial tradisional 35-60 m3/ha.  Lalu apa yang diributkan? Apabila sistem TPTI dituntut untuk menjaga kelestarian produksi dan ekologi hutan, maka tuntutan itu sudah tercapai.  
Seiring perkembangan jaman dan ketatnya persaingan dengan sektor lain (baca: hutan tanaman/kebun kayu, kebun karet dan  kebun kepala sawit), maka usaha pada sektor hutan alam menjadi tidak menarik.  Meskipun sektor ini mampu memberi keuntungan (finansial) yang baik, namun apabila dikonversi menjadi &quot;sektor lain&quot; akan memberi keuntungan yang lebih tinggi dan memiliki kepastian usaha yang lebih baik.  Usaha hutan alam dinilai banyak pihak sebagai usaha yang merusak, karena hanya menebang pohon yang tumbuh dengan sendirinya.  Dan faktor inilah yang menyuburkan pungutan liar.  Pemda lebih tertarik apabila bagian wilayahnya diusahakan melalui sektor yang lebih produktif seperti HTI, Kelapa sawit dan lain-lain sehingga mereka lebih senang bila hutan alam yang masih tersisa di wilayahnya dikonversi menjadi sektor lain itu sambil menikmati IPK.
Meskipun sistem TPTI telah berhasil meraih tujuannya, yaitu kelestarian hutan, namun sistem ini ternyata hanya mempunyai produktivitas yang sangat rendah.  Menurut Suparna (2010), produktivitas hutan alam produksi Indonesia menurun dari 0,48 menjadi 0,25 m3/ha/th tahun 2008.  Menurut Wahyudi (2010), produktivitas IUPHHK-HA di lokasi penelitiannya sebesar 0,45 m3/ha/th.  Bandingkan dengan produktivitas hutan tanaman sebesar 8-12 m3/ha/th.
Selanjutnya Wahyudi (2011) menuliskan bahwa sistem TPTJ mampu meningkatkan produktivitas hutan alam produksi hingga 400% tanpa merusak keanekaragaman jenis.  Dalam penelitian itu Wahyudi menekankan pada realita yang terjadi saat ini, bahwa prediksi growth and yield harus didasarkan pada tanaman yang ada bukan tanaman hasil penelitian yang mendapat perawatan sejak awal.  Dengan berasumsi pohon tebang berdiameter 50 cm ke atas, maka daur tanaman ideal adalah 32-35 tahun dan bisa diturunkan 25 tahun apabila telah menggunakan bibit unggul.  Dalam penelitian tersebut, Wahyudi (2011) menemukan komposisi pertumbuhan tanaman dalam jalur TPTJ, yaitu 4,13 % tumbuh sangat cepat; 25,6 tumbuh cepat; 27,3% tumbuh sedang; 25% tumbuh lambat dan 17,4% tumbuh sangat lambat.  Pada kondisi semacam ini, pada daur 25 tahun hanya diperoleh panenan pohon 50 cm ke atas sebesar 4,13% namun apabila menunggu sampai 32 atau 35 tahun akan diperoleh panenan pohon 50 cm ke atas sebesar 4,13% + 25,6% + 27,3%.   Selanjutnya Wahyudi (2011) menyarankan agar memperbanyak tanaman yang tumbuh sangat cepat tersebut melalui pembiakan vegetatif (stek pucuk atau kultur jaringan) dan hasilnya digunakan untuk penanaman pada tahun berikutnya, sehingga peningkatan hasil hutan kayu tidak harus menunggu sampai daur kedua namun sudah dimulai sejak dini pada siklus pertama ini.
Wahai Rimbawan Generasi Kedua, Mari Bersatu untuk Mempertahankan dan Memberdayakan Hutan Alam Produksi Kita.
Dipetik dari Disertasi Wahyudi (2011).  Beliau adalah dosen Jurusan Kehutanan UNPAR, mempunyai plot-plot penelitian hutan di Kabupaten Kapuas Kalimantan dan berpengalaman bekerja di Hutan Alam Produksi sejak tahun 1992 sampai sekarang.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Kebangkitan Hutan Campuran (Renaissance of Mixed Forest)<br />
Sistem tebang pilih yang diterapkan pada hutan alam produksi (baca: hutan campuran), baik dalam bentuk TPI (1972-1989) maupun TPTI (1989-sekarang) merupakan buah pemikiran begawan kehutanan pertama Indonesia yang baik.  Sistem tersebut berhasil meredam derasnya laju kerusakan hutan Indonesia.  Luas kawasan berhutan pertama kali (sebelum tahun 70-an) adalah 164 juta ha (Suratmo, 2004), lalu menurun menjadi 144 juta ha (TGHK, 1981), lalu menurun lagi tahun 2000 menjadi 120 juta ha (Balitbanghut, 2008).  Tahun 2010 direvisi menjadi 134 juta ha (Ditjen BUK, 2010).<br />
Berdasarkan hasil penelitian Dr. Wahyudi tahun 1998 sampai 2011, sistem TPTI dengan siklus tebang 35 tahun dan limit diameter pohon tebang 50-60 cm telah berhasil mempertahankan kelestarian hutan alam produksi pada kisaran produksi kayu komersial tradisional 35-60 m3/ha.  Lalu apa yang diributkan? Apabila sistem TPTI dituntut untuk menjaga kelestarian produksi dan ekologi hutan, maka tuntutan itu sudah tercapai.<br />
Seiring perkembangan jaman dan ketatnya persaingan dengan sektor lain (baca: hutan tanaman/kebun kayu, kebun karet dan  kebun kepala sawit), maka usaha pada sektor hutan alam menjadi tidak menarik.  Meskipun sektor ini mampu memberi keuntungan (finansial) yang baik, namun apabila dikonversi menjadi &#8220;sektor lain&#8221; akan memberi keuntungan yang lebih tinggi dan memiliki kepastian usaha yang lebih baik.  Usaha hutan alam dinilai banyak pihak sebagai usaha yang merusak, karena hanya menebang pohon yang tumbuh dengan sendirinya.  Dan faktor inilah yang menyuburkan pungutan liar.  Pemda lebih tertarik apabila bagian wilayahnya diusahakan melalui sektor yang lebih produktif seperti HTI, Kelapa sawit dan lain-lain sehingga mereka lebih senang bila hutan alam yang masih tersisa di wilayahnya dikonversi menjadi sektor lain itu sambil menikmati IPK.<br />
Meskipun sistem TPTI telah berhasil meraih tujuannya, yaitu kelestarian hutan, namun sistem ini ternyata hanya mempunyai produktivitas yang sangat rendah.  Menurut Suparna (2010), produktivitas hutan alam produksi Indonesia menurun dari 0,48 menjadi 0,25 m3/ha/th tahun 2008.  Menurut Wahyudi (2010), produktivitas IUPHHK-HA di lokasi penelitiannya sebesar 0,45 m3/ha/th.  Bandingkan dengan produktivitas hutan tanaman sebesar 8-12 m3/ha/th.<br />
Selanjutnya Wahyudi (2011) menuliskan bahwa sistem TPTJ mampu meningkatkan produktivitas hutan alam produksi hingga 400% tanpa merusak keanekaragaman jenis.  Dalam penelitian itu Wahyudi menekankan pada realita yang terjadi saat ini, bahwa prediksi growth and yield harus didasarkan pada tanaman yang ada bukan tanaman hasil penelitian yang mendapat perawatan sejak awal.  Dengan berasumsi pohon tebang berdiameter 50 cm ke atas, maka daur tanaman ideal adalah 32-35 tahun dan bisa diturunkan 25 tahun apabila telah menggunakan bibit unggul.  Dalam penelitian tersebut, Wahyudi (2011) menemukan komposisi pertumbuhan tanaman dalam jalur TPTJ, yaitu 4,13 % tumbuh sangat cepat; 25,6 tumbuh cepat; 27,3% tumbuh sedang; 25% tumbuh lambat dan 17,4% tumbuh sangat lambat.  Pada kondisi semacam ini, pada daur 25 tahun hanya diperoleh panenan pohon 50 cm ke atas sebesar 4,13% namun apabila menunggu sampai 32 atau 35 tahun akan diperoleh panenan pohon 50 cm ke atas sebesar 4,13% + 25,6% + 27,3%.   Selanjutnya Wahyudi (2011) menyarankan agar memperbanyak tanaman yang tumbuh sangat cepat tersebut melalui pembiakan vegetatif (stek pucuk atau kultur jaringan) dan hasilnya digunakan untuk penanaman pada tahun berikutnya, sehingga peningkatan hasil hutan kayu tidak harus menunggu sampai daur kedua namun sudah dimulai sejak dini pada siklus pertama ini.<br />
Wahai Rimbawan Generasi Kedua, Mari Bersatu untuk Mempertahankan dan Memberdayakan Hutan Alam Produksi Kita.<br />
Dipetik dari Disertasi Wahyudi (2011).  Beliau adalah dosen Jurusan Kehutanan UNPAR, mempunyai plot-plot penelitian hutan di Kabupaten Kapuas Kalimantan dan berpengalaman bekerja di Hutan Alam Produksi sejak tahun 1992 sampai sekarang.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Press Release Persaki by fanani utomo</title>
		<link>http://persaki.org/2009/04/press-release-persaki/#comment-7</link>
		<dc:creator>fanani utomo</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 05 Oct 2011 14:18:52 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://persaki.org/?p=83#comment-7</guid>
		<description>REDD menunjukkan terlalu membela dan mengikuti pihak Eropa dan USA yg notabene paling menghasilkan emisi carbon dioksida</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>REDD menunjukkan terlalu membela dan mengikuti pihak Eropa dan USA yg notabene paling menghasilkan emisi carbon dioksida</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Landasan Idiil Penuaian Tugas Rimbawan Dalam Bidang Hutan dan Kehutanan by Ir. Edi Hudaya</title>
		<link>http://persaki.org/2009/04/landasan-idiil-penuaian-tugas-rimbawan-dalam-bidang-hutan-dan-kehutanan/#comment-3</link>
		<dc:creator>Ir. Edi Hudaya</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 17 May 2011 03:22:09 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://persaki.org/?p=71#comment-3</guid>
		<description>Dengan berakhirnya rezim orde baru, kita semua sadar bahwa tantangan didepan mata yang meliputi peruabahan,pertumbuhan dan peningkatan kinerja, kualitas dan kuantitas khususnya sumber daya alam serta hasil-hasil berbasiskan non-kayu.  Ini sebuah dilema baru yanga patut kita cermati.  Sepengetahuan saya sarjana kehutanan begitu erat dengan komunitas petani maupun kaum pedagang (ini dimani untuk menyokong kebutuhan dan gaya hidup).  Sejatinya kaum terpelajar mulai merenungkan aspek-aspek keberlangsungan suatu sistem produksi dan distribusi yang selaras dengan kemampuan daya dukung lingkungan.  Semoga dengan otoritas penuh yang diberikan oleh pemerintah seluruh jajaran kehutanan dapat meningkatkan peran serta terlibat aktif dalam ikut membangun dan memelihara hasil-hasil yang telah dicapai. Salam kompak selalu dari pantai selatan.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Dengan berakhirnya rezim orde baru, kita semua sadar bahwa tantangan didepan mata yang meliputi peruabahan,pertumbuhan dan peningkatan kinerja, kualitas dan kuantitas khususnya sumber daya alam serta hasil-hasil berbasiskan non-kayu.  Ini sebuah dilema baru yanga patut kita cermati.  Sepengetahuan saya sarjana kehutanan begitu erat dengan komunitas petani maupun kaum pedagang (ini dimani untuk menyokong kebutuhan dan gaya hidup).  Sejatinya kaum terpelajar mulai merenungkan aspek-aspek keberlangsungan suatu sistem produksi dan distribusi yang selaras dengan kemampuan daya dukung lingkungan.  Semoga dengan otoritas penuh yang diberikan oleh pemerintah seluruh jajaran kehutanan dapat meningkatkan peran serta terlibat aktif dalam ikut membangun dan memelihara hasil-hasil yang telah dicapai. Salam kompak selalu dari pantai selatan.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
